HartojoAndangdjaja (1930-1990) Kota-kota tercinta. antena-antena pemancar beragam suara. antena-antena penangkap hingar dunia. timbunan kegiatan dan tempat kesibukan bermuara. di mana siang yang membakar memeluhkan keringat. kerja. mengepulkan debu dan kau bensin di udara. dan malam yang menyegarkan memulihkan kembali.
Padang Kota Tercinta, di Padang Kita Bercinta - teringat sajak Leon Agusta & Rusli Marzuki Saria Sebuah malam absurd dengan sepasang gagak yang bertengger di tiang katedral setengah roboh, langit dengan gerakan awan berhemburan tertembak cahaya lampu watt, aroma garam-pala-merica lembab terkirim dari sebuah ruangan dan tajam aroma alkohol sampai dari ruangan lain—aku berusaha menulis sajak tentang kota di bawah perlintasan jalan dengan billboard besar bertuliskan SELAMAT DATANG. Aku jadi ingat Leon muda yang tahunan membangun kota dari bahasa sajak, juga Rusli muda yang dengan genitnya menulis kisah Puteri Bunga Karang di antara kisah percintaan purba lainnya di sehamparan pantai Padang. Sebuah malam yang absurd, kota yang mabuk dalam beratus lagu ombak gila, beratus sumpah pembatuan manusia, serta orang-orang yang hibuk dengan siasat bercinta. “Kota ini, cintaku, dibangun dari getaran saluang dan dendang, dari alunan rebab dan gamad, juga aroma kamu di dalam kisahnya,” aku bayangkan Leon dan Rusli muda serasa telah menghentikan ayunan ombak pada batu karang setelah membisikkan sajak pada pacarnya. “Di kota ini, cintaku, meski hujan bergerak lamban tapi dibenamkannya kita dalam bertahun cerita tentang pelayaran,” dan seperti ada yang membenam di arah samudera sana, barangkali sebentang pulau, atau kapal-kapal gadang yang terhempas di antaranya. Tapi pada sebuah malam yang absurd, sebuah malam di mana Leon dan Rusli entah ada di mana, aku dan beberapa teman penyair lain telah membangun beberapa ruang di bagian lain kota. “Di sini, cinta seperti kematian yang berulang, bunuh diri yang berkali, atau serupa celana sobek yang kita jahit kembali,” gerutu yang serupa deru pecahan kaca toko dilempari batu, tembakan lampu watt yang berlahan lindap, tulisan billboar serasa mengucapkan selamat jalan. Segalanya diam dalam bahasa sajak, segalanya beralih dari malam. “Padang kota tercinta, di Padang kita bercinta…” aku menulis sajak tentang kota di bawah perlintasan jalan dengan billboard besar, kisah percintaan yang hambar, dan segelas kopi dengan gula yang berulangkali ditakar. Catatan'Padang Kota Tercinta' merupakan slogan kota Padang yang oleh pemerintahan diambil dari judul sajak Leon Agusta. Pada masa pemerintahan kini, slogan tersebut ditambahkan dengan kalimat 'Kujaga dan Kubela.' Sedangkan 'Puteri Bunga Karang' merupakan judul sajak Rusli Marzuki Saria, ia juga seringkali menulis sajak tentang padang salah satunya tentang Hiligoo. Puisi Padang Kota Tercinta, di Padang Kita Bercinta Karya Esha Tegar Putra
0S5tRI. thqgz8750r.pages.dev/197thqgz8750r.pages.dev/997thqgz8750r.pages.dev/899thqgz8750r.pages.dev/44thqgz8750r.pages.dev/453thqgz8750r.pages.dev/698thqgz8750r.pages.dev/110thqgz8750r.pages.dev/188
puisi pendek tentang kota tercinta